you are here: home » media

What media says about us

 

 

Kompas: Gita Wirjawan di antara Bank dan Jazz
oleh Edna Pattisina & Frans Sartono

Hadirin pada konser jazz Bob James di Jakarta akhir tahun 2005 kaget ketika seorang "tak dikenal" naik ke pentas dan bermain piano memainkan karyanya sendiri. Orang itu adalah Gita Wirjawan yang di luar panggung berprofesi sebagai bankir. Di antara bank dan jazz itulah Gita berada.

Hiasan di ruang kerja Gita Irawan Wirjawan, President Director JPMorgan Indonesia, berbicara cukup banyak tentang pemiliknya. Di lantai tergolek partitur dengan tulisan tangan berjudul Roll It, song by Gita Wirjawan & Bob James. Di dekat partitur itu tersandar gitar elektrik Fender bertanda tangan James Brown. Di rak, tampak deretan foto Gita dengan berbagai tokoh, seperti Collin Powell dan Paul Wolfowitz.

"Kerjaan sih part time di bank, full time-nya di musik," seloroh Gita yang lahir di Jakarta, 21 September 1965.

Candaan itu membuka percakapan kami tentang dunia finansial, musik, dan harmonisasi antara dua dunia itu. Dunia bisnis yang hitam-putih, di mana kepekaan terhadap manusia tereduksi lewat susunan angka, sering membuatnya risi.

Begitulah mungkin mata seni Gita melihat dunia bisnis dari luar. Namun, memang ada saat-saat tertentu sebagai eksekutif di dunia perbankan ia sering harus mengambil keputusan secara tegas.

"Latar belakang musik saya membantu dalam mengambil keputusan secara lebih bijak. Ini lebih banyak menolong, daripada tidak enaknya."

Akan tetapi, di sisi lain, sebagai pebisnis ia suka bingung sendiri melihat tingkah polah yang terjadi di dunia seni. "Kok hidup bisa begitu gampangnya ya, janji jam delapan baru datang jam sepuluh," ceritanya.

Toh, lulusan Kennedy School of Government, Harvard University, ini mengaku mendapat banyak "kekayaan" justru dari bidang seni. Wawasannya tentang musik bisa melicinkan transaksi dengan obrolan sana-sini tentang seni dan kultur. Ia, katanya, juga menjadi lebih peka terhadap manusia. Ia, misalnya, bisa membaca bahasa tubuh rekan bisnis.

"Kadang-kadang orang mengangguk-angguk saja, tetapi sebenarnya enggak setuju," katanya.

Produser

Gita ingin tetap berada di dua dunia tersebut. Berada di jagat perbankan, candanya, lama-lama bisa kepanasan. Di musik, ia bisa menyalurkan belitan kejenuhan dunia bisnis.

Ia mendirikan Omega Pacific Production, perusahaan rekaman dengan misi membantu musisi-musisi yang dia nilai berbakat. Ia membantu memproduksi dan mendistribusikan album seniman yang memiliki kendala memproduksi. Kalau ada untung, dibagi dua. Kalau enggak, dia siap menanggung rugi. "Zero profit," katanya.

Omega Pacific antara lain pernah memproduksi album pianis jazz Nial Djuliarso, grup jazz Cherokee, Bali Lounge, serta Tompi. Gita sendiri kadang turun langsung bermain piano di album yang dia produksi, seperti pada album Tompi. Komposisi yang dibuatnya, This One’s For You, juga dimainkan pada album Nial Djuliarso At Juilliard.

Gita merasa jatuh cinta pada jazz saat berusia 13-14 tahun. Ia mulai mencerna jazz yang diputar kakaknya, seperti Earl Klugh, Dave Brubeck, Wes Montgomery, Duke Ellington, sampai Miles Davis. Oleh orangtuanya yang bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa, ia diminta belajar piano klasik. Akan tetapi, Gita malah tergila-gila pada jazz. Ia lalu mendalami gitar, biola, siter, sampai saksofon.

Masa-masa sekolah dihabiskan dengan mata pelajaran musik dan olahraga. Demikian juga ketika kuliah, ia mengambil mata pelajaran matematika dan musik sebagai mata pelajaran utama. Baru pada tahun keempat, ketika sadar orangtuanya lebih suka ia mengambil pelajaran yang "praktis", Gita tiba-tiba beralih ke mata kuliah bisnis pada tahun keempat. Dua tahun mengebut, ia akhirnya mendapat gelar sarjana administrasi bisnis

Saat mengambil master of public administration di Harvard, Amerika Serikat, ia sempat-sempatnya mengambil kelas musik di Berkeley pada malam hari. Sehari-hari ia lebih banyak menggeluti musik daripada buku-buku teks kuliahnya. Alasannya, kalau bikin komposisi itu bisa tak terasa bedanya antara 20 menit dengan 20 jam. Ini juga yang membuatnya suka dimarahi istri, Yasmin Stamboel Wirjawan, mantan murid pianonya, gara-gara lebih banyak tenggelam di musik.

Menyesal menjadi bankir? "Wah, kedengarannya begitu ya?" katanya buru-buru bertanya balik.

Baginya, musik adalah tujuan, sementara bisnis alat untuk mencapai tujuan itu. Gita menggarisbawahi pentingnya komitmen ketika sudah memilih berkiprah di dua dunia itu. "Aku orangnya total kalau sudah memilih," katanya.

Kesibukannya sebagai bankir kini berselang-seling dengan kesibukan sebagai produser. Sepuluh tahun lalu ia masih bisa tampil di panggung berbagai kafe, seperti Hard Rock dan News Cafe. Kadang-kadang, ia malah menerima tawaran tampil di acara kawinan. Dia juga sempat mendapat "ancaman" dari bosnya di Citibank, "Kalau kamu main piano lagi...."

Namun, sejak sekitar tahun 1997, seiring dengan semakin padatnya kesibukan bisnisnya, Gita rela berhenti "ngamen".

Keluarga

Kini, ia menghabiskan waktu akhir pekannya dengan keluarga. Pria yang kalau makan siang menyempatkan pulang ke rumah yang terletak di apartemen di kawasan Sudirman ini memilih bermain musik bersama anak-anaknya. Apalagi anak-anaknya kini tidak hanya fasih dengan Linkin Park dan Coldplay, tetapi juga mulai suka Deep Purple dan Jimi Hendrix.

"Aku menganggap diriku family man," katanya. Makanya, akhir pekan ia habiskan ke tempat kebugaran, berenang, belanja DVD, jalan-jalan di mal, dan makan malam bersama istri dan tiga anaknya. Dengan keluarga, bisnis, dan jazz Gita merasa hidupnya komplet.


 
   
  our releases
     
  World Peace Orchestra
2009
     
  Kirana
2009
     
  Miss Kadaluarsa
2011
     
  Asia Beat Repackaged Asia Beat
Urban Beyond (Repackaged)

2011
   
  Bali Lounge 2 Bali Lounge 2
2005
     
   
  KEN - Jalan Lain Ke Hatimu KEN - Jalan Lain Ke Hatimu
2005
     
   
  coming soon opp and friends featuring
bob james

Coming soon!
     
  nial djuliarso
at juilliard

2006
   
  tompi - T
2005
   
  bali lounge - Bali Lounge
2004
   
  cherokee - Inner Beauty
2003
 

copyright © 2005-2011 www.oppmusic.com

editing by ami@amirulloh.co.cc